Article

Hukum Tasyakuran Haji Walimatul Safar (Tasyakuran Berangkat dan Pulang Haji)

Hukum Tasyakuran Haji Walimatul Safar (Tasyakuran Berangkat dan Pulang Haji) thumbnail
 

Tasyakuran Haji | Walimatul Safar

Perayaan atau walimah untuk menyambut orang yang pulang haji, diiringi dengan acara makan-makan, hukumnya boleh. Atau jamaah haji sendiri yang menyediakan makanan kemudian mengundang tetangganya untuk makan-makan, hukumnya boleh.

 

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa para sahabat merayakan kegembiraan ketika menyambut kedatangan musafir, baik safar haji, umrah, berdagang, maupun yang lainnya.

Dari ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَكَّةَ – أي : في فتحها – اسْتَقْبَلَتْهُ أُغَيْلِمَةُ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَحَمَلَ وَاحِداً بَيْنَ يَدَيْهِ وَآخَرَ خَلْفَهُ‏

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Mekah –pada waktu fathu Mekah– anak-anak dari keturunan Abdul Muthallib menyambut beliau. Ada yang dinaikkan di depan onta beliau dan yang lain dibonceng di belakang.” (HR. Bukhari 1798).

 

Dalam kaitannya dengan mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji yang sejak lama diidamkan dan melalui proses yang panjang, maka pantaslah bagi seorang mukmin mensyukuri nikmat berupa kesehatan, kecukupan, dan kesempatan untuk menunaikan salah satu rukun Islam itu. Walaupun masih berupa peluang akan berangkat pun –dengan kepastian keberangkatan– adalah nikmat pula. Namun hakikat dari syukur adalah pendayagunaan segala nikmat yang Allah berikan untuk bersikap taat kepadanya. Adapun ekspresi lain berupa penyelenggaraan walimah disebabkan mau berangkat haji, tidak dikenal khazanah fikih Islam.

 

Al-Bahuti menginventarisasi berbagai macam walimah yang biasa disebut para ulama dalam bab walimah, yakni terdapat sebelas macam walimah. Tetapi tidak dijumpai adanya walimah hendak berangkat haji. Begitu pula Ibn Thuluun dalam kitabnya “Fash al-Khawatim fi Ma Qila fi al-Wala’im”, dari dua belas macam yang ia cantumkan tak sedikitpun menyinggung tentang adanya walimah safar. Terkait dengan perjalanan (safar), mereka berdua hanya menyebut “al-naqi’ah”, yaitu makanan yang disiapkan untuk makan bersama undangan karena menyambut orang yang datang dari bepergian.

 

Walaupun demikian, hal ini tidak berarti dilarang. Memberi makan kepada orang lain dengan maksud sedekah adalah hal yang jelas dianjurkan dalam syariat. Yang tidak boleh adalah meyakini bahwa Walimah Safar (hendak berangkat haji) adalah sesuatu yang disunnahkan atau dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w. atau bahkan bagian dari tuntunan berhaji, hingga bila tidak dilakukan lantas dinilai cacat dalam beragama.

 

Dan bila dalam praktiknya sesuai adat setempat ternyata memakan biaya besar, sehingga dapat menghalangi orang untuk berhaji karena modalnya pas-pasan atau potensial menjadi ajang persaingan prestis dan pamer, maka wajib adanya pelurusan, bahkan mungkin sampai fatwa pelarangan.

وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Janganlah kalian bersikap berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang boros.” (QS. Al-An’am: 141).

 

DaftarHajiUmroh

DaftarHajiUmroh

ASK ME INFO UMROH

0822 3375 6981
Pin 7CA 80 A32
====================================================
==> DOWNLOAD Jadwal & Biaya Paket Umroh Alhijaz Indowisata
====================================================

ASK ME PELENGKAPAN HAJI UMROH

DivaMecca.com – Pelengkapan Haji dan Umroh
081 7968 7414
Pin 323 F7 396

More Posts

Share On :
 

Guide

Tentang Kami
Privacy Policy
Hubungi Kami
Disclaimer

Find Us

Twitter
Facebook
Youtube
Google +

About

DaftarHajiUmroh.com adalah situs informasi haji dan umroh. Pembuatan situs bertujuan membantu jamaah indonesia agar mempunyai guide dalam melaksanakan ibadah haji dan umroh.
Informasi Pendaftaran Manasik Biaya Murah Paket Umroh Travel Haji Plus 2014


Powered by @DaftarHajiUmroh.com

Travel Haji Plus Terbaik | Travel Umroh Yang Bagus | Pendaftaran Umroh | Biaya Haji 2014 | Biaya Paket Umroh Maktour 2014 Murah Promo| Informasi Haji Terkini