Muzdalifah (bahasa Arab: مزدلفة) adalah daerah terbuka di antara Mekkah dan Mina di Arab Saudi yang merupakan tempat jamaah haji diperintahkan untuk singgah dan bermalam setelah bertolak dari Arafah. Muzdalifah terletak di antara Ma’zamain (dua jalan yang memisahkan dua gunung yang saling berhadapan) Arafah dan lembah Muhassir. Luas Muzdalifah adalah sekitar 12,25 km², di sana terdapat rambu-rambu pembatas yang menentukan batas awal dan akhir Muzdalifah.

Jamaah haji setelah melaksanakan wukuf di Arafah bergerak menuju Muzdalifah saat setelah terbenamnya matahari (waktu Maghrib). Di Muzdalifah jamaah haji melaksanakan shalat Maghrib dan Isya secara digabungkan dan disingkat (jamak qashar) dan bermalam di sana hingga waktu fajar. Di Muzdalifah jamaah haji mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah.

Bermalam di Muzdalifah hukumnya wajib dalam haji. Maka siapa saja yang meninggalkannya diharuskan untuk membayar dam. Dianjurkan untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW; bermalam hingga memasuki waktu shalat Subuh, kemudian berhenti hingga fajar menguning. Namun bagi orang-orang yang lemah, seperti kaum wanita, orang-orang tua dan yang seperti mereka, boleh meninggalkan Muzdalifah setelah lewat tengah malam. Setelah shalat Subuh, jamaah haji berangkat menuju ke Mina.

[spacer size=”30″]

 

Mabit Di Muzdalifah

[frame][/frame]Mabit di Muzdalifah artinya barmalam atau berhenti sejenak atau menginap    di Muzdalifah pada malam 10 Dzul Hijjah selepas wukuf di Arofah. Dibagian sebelah barat dari Muzdalifah ini terletak Masy’aril Harom, yaitu gunung Quzah. Mufassir lain mengatakan,  Masy’aril Harom adalah Muzdalifah seluruhnya. Di tempat itu jama’ah Haji melakukan mabit atau wukuf, minimal  telah melewati tengah malam. Memang,  yang lebih utama  mabit dilakukan sampai selesai shalat Subuh sebelum berangkat ke Mina untuk melakukan  Jumroh Aqobah.

[spacer size=”30″]

[heading align=”left”]a. Hukum dan Waktu Pelaksanaan Mabit Di Muzdalifah[/heading]

Para imam madzhab sependapat bahwa mabit di Muzdalifah hukumnya wajib, kecuali bagi seseorang yang mendapat udzur, misalnya: bertugas melayani jama’ah, sakit, merawat orang sakit, menjaga harta, dll.. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat  Al-Baqarah ayat 198,

.….. فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ …..

Setelah kamu meninggalkan Arofah maka berdzikirlah mengingat Allah            di Masy’aril Harom. (Al Baqoroh/2:198).

Kewajiban mabit di Muzdalifah ini juga didasarkan kepada hadis Nabi saw riwayat Jabir, sbb.:

صحيح مسلم – (ج 6 / ص 245

…….أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا شَيْئًا ثُمَّ اضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ وَصَلَّى الْفَجْرَ حِينَ تَبَيَّنَ لَهُ الصُّبْحُ بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ حَتَّى أَتَى الْمَشْعَرَ الْحَرَامَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَدَعَاهُ وَكَبَّرَهُ وَهَلَّلَهُ وَوَحَّدَهُ فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى أَسْفَرَ جِدًّا فَدَفَعَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ….. 

……Nabi saw. mendatangi Muzdalifah, lalu shalat Maghrib dan Isya dengan adzan sekali dan dua kali iqomat, dan tidak shalat (sunat) di antara keduanya. Kemudian berbaring (tidur) sampai terbit fajar: Lalu shalat Subuh setelah jelas waktu Subuh dengan sekali adzan dan sekali iqomat. Kemudian mengendarai Qoswaa sehingga sampai di Masy’ar al Harom lalu menghadap kiblat, berdo’a, bertakbir, bertahlil dan membaca kalimat tauhid lalu terus bewukuf sampai terang benar. Lalu berangkat sebelum terbit matahari……

[spacer size=”30″]

Secara detail, ketentuan  mabit di Muzdalifah ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, menurut madzhab Syafi’i, jamaah harus berada di Muzdalifah walaupun sebentar dengan syarat harus berada di Muzdalifah,  sekurang-kurangnya melewati pertengahan malam setelah wuquf di Arafah dan tidak perlu berdiam (al-muktsu), baik ia (jamaah haji) tahu sedang berada di Muzdalifah atau tidak.

Kedua, menurut madzhab Hanafi, berada di Muzdalifah merupakan wajib haji, dan cukup sesaat sebelum fajar. Apabila tidak berada di Muzdalifah  sebelum terbit fajar, jamaah haji harus membayar dam, kecuali ada alasan syar’I, seperti sakit, maka tidak apa-apa.

Ketiga, menurut madzhab Hambali, berada di Muzdalifah adalah wajib haji dan dapat dilakukan kapan saja, sejenak dari pertengahan kedua malam Nahar, bukan karena dia petugas pengairan atau penggembala.

Keempat, menurut madzhab Maliki, termasuk wajib haji adalah turun di Muzdalifah sekedarnya dalam perjalanan setelah wuquf di Arafah pada malam hari, pada saat menuju Mina.

[spacer size=”30″]

Dasar yang digunakan para imam madzhab mengenai kewajiban mabit di Muzdalifah sebagai berikut:

Pertama, keterangan yang dikemukakan  Imam al-Nawawi Al-Dimasqi dalam kitabnya, Al-Majmu’,  bahwasanya kewajiban membayar Dam bagi yang meninggalkan mabit di Muzdalifah dikenakan   bagi orang yang meninggalkannya karena  tidak ada udzur.

Kedua, riwayat Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muhadditsin lainnya,  sebagai berikut.:

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ مُضَرِّسِ بْنِ أَوْسِ بْنِ حَارِثَةَ بْنِ لَامٍ الطَّائِيِّ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُزْدَلِفَةِ حِينَ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي جِئْتُ مِنْ جَبَلَيْ طَيِّئٍ أَكْلَلْتُ رَاحِلَتِي وَأَتْعَبْتُ نَفْسِي وَاللَّهِ مَا تَرَكْتُ مِنْ حَبْلٍ إِلَّا وَقَفْتُ عَلَيْهِ فَهَلْ لِي مِنْ حَجٍّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَهِدَ صَلَاتَنَا هَذِهِ وَوَقَفَ مَعَنَا حَتَّى نَدْفَعَ وَقَدْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ قَبْلَ ذَلِكَ لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَقَدْ أَتَمَّ حَجَّهُ وَقَضَى تَفَثَهُ

Dari Urwah bin Mudras bin Aus Atha’ir Ashabi berkata: aku datangi Rasulullah saw di Muzdalifah ketika beliau keluar sembahyang maka aku berkata: wahai Rasulullah aku datang dari gunung Tha’yi aku lelah dari perjalanan dan lemah badanku, demi allah aku tidak meninggalkan dari sebuah gunung  kecuali aku berhenti padanya. Apakah sah hajiku? Berkata Rasulullah saw, “Barang siapa menghadiri shalat kami (Subuh) ini dan wuquf bersama kami hingga kami berangkat dari sini, dan ia sudah wuquf di Arafah sebelum itu malam atau siang, maka sempurnalah hajinya dan selesailah ibadahnya”.

[spacer size=”30″]

[heading align=”left”]b. Tempat Mabit di Muzdalifah[/heading]

Menurut imam Ahmad, seluruh kawasan Muzdalifah merupakan tempat mabit, kecuali lembah Mahasir (terletak antara Muzdalifah dan Mina). Hanya saja, mabit atau wuquf di Quzzah dinilai lebih utama, berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ali ra., sebagai berikut:

سنن أبي داود – (ج 5 / ص 289)

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ فَلَمَّا أَصْبَحَ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَقَفَ عَلَى قُزَحَ فَقَالَ هَذَا قُزَحُ وَهُوَ الْمَوْقِفُ وَجَمْعٌ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

Menurut Sayid Sabiq, Quzzah merupakan bukit di Muzdalifah, yang dalam surat Al-Baqarah ayat 198 diredaksikan dengan al-Masy’ar al-Haram.

[spacer size=”30″]

[heading align=”left”]c. Aktifitas Ketika Mabit di Muzdalifah[/heading]

[frame][/frame]Menurut sunnah Rasulullah saw, aktifitas yang dilakukan ketika mabit                   di Muzdalifah  sebagai berikut: Shalat berjamaah Maghrib dan Isya dengan jama’ takhir dan qosor di Muzdalifah dengan 1 kali adzan dan 2 kali iqomat, tanpa ada shalat sunat di antara keduanya. Sesudah shalat, beristirahat (tidur) sampai terbit fajar. Setelah terbit fajar shalat berjamaah Subuh dengan 1 kali adzan dan 1 kali iqomat. Selesai shalat Subuh lalu berwukuf di Masy’aril Harom, berdo’a, membaca tahmid, tahlil, kalimat tauhid (Laa Ilaaha illallah), sampai terang. Kemudian berangkat ke tempat Jumroh Aqobah di Mina sebelum matahari terbit. Selain itu, pada saat mabit di Muzdalifah, jama’ah haji mencari batu kerikil sejumlah yang diperlukan untuk melempar jumrah    di Mina esok hari dan hari lain setelahnya.

[spacer size=”30″]

[heading align=”left”]d. Kekeliruan-kekeliruan Yang Dilakukan Jama’ah Di Muzdalifah[/heading]

Kekeliruan-kekeliruan  yang  dilakukan Jama’ah haji Di Muzdalifah, setidaknya bisa dijelaskan sebagai berikut:

[spacer]

Pertama, sebagian jama’ah haji, di saat pertama tiba di Muzdalifah, sibuk dengan memungut batu kerikil sebelum melaksanakan shalat Maghrib dan Isya dan mereka berkeyakinan bahwa batu-batu kerikil pelempar Jamrah itu harus diambil dari Muzdalifah. Yang benar, adalah dibolehkannya mengambil batu-batu itu dari seluruh tempat di Tanah Haram. Sebab keterangan yang benar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau tidak pernah menyuruh agar dipungutkan batu-batu pelempar Jamrah Aqabah dari Muzdalifah. Hanya saja beliau pernah dipungutkan batu-batu itu di waktu pagi ketika meninggalkan Muzdalifah setelah masuk Mina. Ada pula sebagian mereka yang mencuci batu-batu itu dengan air, padahal inipun tidak disyari’atkan.

[spacer]

Kedua, pada saat mabit di Muzdalifah, apalagi  setelah tengah malam lewat, banyak jama’ah yang mengumandangkan takbir lengkap seperti di tanah air. Mereka seakan-akan ingat kebiasaan di tanah air, kalau malam lebaran selalu membaca takbir. Padahal, menurut Imam al-Nawawi al-Dimasyqy, takbir lengkap ini sunnah dikumandangkan untuk menggantikan talbiyyah kalau jama’ah haji telah melempar jumrah aqabah, minimal untuk lemparan pertama .

[spacer]

Ketiga, banyak jama’ah yang tidak sabaran telah meninggalkan Muzdalifah sebelum tengah malam (ba’da zawal). Mereka berebut bus, pingin buru-buru ke Mina untuk melontar jamarat Aqabah atau ke Makah untuk Thawaf Ifadhah. Padahal mayoritas imam mazhab sepakat, mabit di Muzdalifah itu sekurang-kurangnya sampai tengah malam (ba’da zawal), walaupun yang afdhal, mabit di Muzdalifah itu berlangsung sampai subuh. Jama’ah yang meninggalkan Muzdalifah sebelum zawal,  wajib membayar dam.

 

 FAQ

 

  • Kapankah dan berapa lamakah jamaah haji melakukan mabit di Muzdhalifah?
    Jamaah haji melakukan mabit di Muzdhalifah mulai matahari terbenam sampai lewat tengah malam 10 Zulhijjah dan lamanya boleh sesaat asal sudah lewat tengah malam.

 

  • Apakah jamaah haji boleh tidak mabit di Muzdhalifah?
    Bagi yang sehat wajib mabit di Muzdhalifah. Tetapi bagi yang sakit dan yang mengurus orang sakit ataupun yang mengalami kesulitan (masyaqqah), sehingga ia tidak mabit di Muzdhalifah, maka ia tidak dikenakan dam

 

  • Apakah jamaah haji yang melakukan mabit di Muzdhalifah harus turun dari kendaraannya?
    Jamaah haji yang melakukan mabit di Muzdhalifah tidak harus turun dari kendaraannya.

 

  • Sebesar apakah batu yang dipergunakan untuk melontar jamrah?
    Batu yang dipergunakan untuk melontar jamrah sebesar kelereng (gundu) kecil.

 

  • Berapa butir kerikil yang diambil di Muzdhalifah?
    Cukup 7 butir batu kerikil untuk melontar jamrah Aqabah. Sedangkan untuk melontar jamrah pada hari-hari tasyrik boleh diambil di Mina. Boleh juga mengambil di Muzdhalifah sebanyak yang diperlukan untuk melontar jamrah, yaitu 49 butir bagi nafar awal atau 70 butir bagi yang akan nafar sani.

 

  • Apakah batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jamrah harus dicuci lebih dahulu?
    Batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jamrah tidak harus dicuci lebih dahulu.

 

  • Kapan jamaah haji boleh meninggalkan tapal batas Muzdalifah?
    Jamaah haji baru boleh melintasi tapal batas akhir Muzdalifah apabila telah leat tengah malam.