Kiat Menuju Haji Mabrur dan Ciri – Ciri Haji Mabrur

Muqaddimah

Dalam salah satu ayat QS. Al-Hajj (22): 27: Allah SWT berfirman:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

(“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji (berziarah ke tanah suci), niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”).

 

Ayat di atas, meletakkan dasar kegiatan berziarah ke tanah suci Makkah. Berziarah adalah salah satu sistem yang dianut oleh komunitas manusia seantero dunia ini. Haji menempati posisi unik dan penting bila dibandingkan dengan ziarah yang dilakukan kalangan umat Kristiani ataupun Hindu, baik dalam doktrin, geografis, histories dan cakupan globalnya.

 

Berbagai bangsa, ras, etnik, warna kulit, bahasa berbaur dan berinteraksi, membentuk majlis manusia terbesar dan terhetrogen dalam waktu dan tempat yang sama, di Makkah al-Mukarromah tempat beradanya “Baitullah”, dan itulah saat-saat peribadatan haji, rukun Islam yang ke lima di lakukan.

 

Haji merupakan ibadah tahunan selama minggu kedua bulan Dzulhijjah dan di laksanakan di Makkah al-Mukarromah. Serangkaian ritual yang sangat simbolis dan emosional di lakukan bersama-sama secara serentak oleh semua jamaah haji, dengan hanya semata mengikuti jejak contoh Nabi Muhammad saw sebagai reka ulang peristiwa ujian keimanan atas Nabi Ibrahim, Siti Sarah sang istri dan Ismail sang anak. Dalam hadis riwayat Muslim dan an-Nasa-i dari Jabir ibn Abdillah, Rosulullah saw bersabda “Khudzu ‘anni manasikakum”, (ambillah (contoh) dariku (tata cara) ibadah hajimu).

 

Haji Mabrur

Ibadah haji yang dilakukan dengan benar membentuk manusia yang secara spiritual lahir kembali “roja’a ka yaumin waladathu ummahu” (H.R.as-Syaikhoni dari Abi Hurairoh ra), yang seluruh dosa dan kesalahannya telah terampuni (H.R.Abdillah, Jabir, Amr bin Ash, Umar dll). Pada wacana ini, jamaah berusia lanjut dan lemah banyak yang berangan-angan untuk mati di sana, karena menguatnya keyakinan bahwa dirinya telah bersih yang akan segera masuk surga. Namun hal ini bisa terjadi manakala ibadah hajinya diterima oleh Allah SWT, tetapi ketentuan keabsahannya tidak mungkin diketahui oleh siapapun. Tanda ibadah haji di terima oleh-Nya, yang kemudian biasa di sebut hajinya mabrur, bukanlah karena sudah melakukan semua ritual manasik secara benar semata, melainkan dengan kemampuan menerapkan niat yang tulus, ikhlas dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT pada setiap perjalanan spiritual ibadah haji.

 

Berbagai indikator kemabruran yang harus berlangsung sepanjang sejarah kehidupan seseorang yang telah menunaikan ritual haji yang baik dan benar, haruslah tercermin dalam realitas hidup. Struktur simbolis haji yang mengandung multi makna dan membuka berbagai penafsiran alternatif, mendorong banyak karakter bagi jamaah haji dalam menapaki hari-hari esok yang penuh tantangan dan dinamika, sehingga aktualisasi kemabruran akan sangat memberi cercah positif dan terpenuhinya harapan indah dan diraihnya kebahagiaan yang tidak nisbi.

 

Rasulullah saw menawarkan peluang dengan prospek yang membahagiakan bagi jamaah haji yang telah dapat menunaikan syarat, rukun dan wajib haji dengan baik dan sempurna. Sabda beliau menegaskan tentang hakikat kemabruran haji yang adalah dambaan setiap insan yang pergi haji dan pahala yang sangat maksimal yaitu “al-Jannah”. Hadist dari Jabir bin Abdillah ra. Rosulullah saw bersabda : “al-Hajjul mabrur laisa lahu jaza-un illa’ljannata”. Qo-lu ya Rosulallah, ma birrul-hajji? Qo-la : Ith’a-mu-l-tho-‘a mi, wa ifsya-u’l-salami”. Khorrojahu al-Imam Ahmad wa khorrojahu’al-Mukhollish al-Dzahabiy. Qo-la: wa thi bu’l-kalami, maka-na ifsya-i’l-salami”, (Haji mabrur itu tidak ada pahalanya selain surga”, mereka berkata: Wahai Rosulallah, apakah birrul-haji itu ? (kebaikan yang timbul karena ibadah haji ?); Beliau bersabda: “Memberi makan (bersedekah) ; dan menebar kesejahteraan” diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan ditakhrij oleh al-Mukhollish’l-Dzahabiy; beliau bersabda: “Dan bertutur sapa yang santun, menempati “menebar kesejahteraan”.

 

Dijelaskan dalam kitab “al-Qiro’li qoshidi ummil’quro” dalam syarah hadits di atas bahwa: “al-mabrur, yakni “haji yang tidak di campuri oleh dosa, dikatakan juga “al-mutaqobbal, yaitu yang diterima; dan juga berarti “yang tidak ada riya di dalamnya, dan tidak ada rasa takabur serta tidak dibarengi dengan perbuatan atau perkataan yang porno juga tidak berbuat kefasikan”. Dikatakan pula, bahwa tanda-tanda haji mabrur adalah akan senantiasa bertambah kebaikannya dan tidak lagi membiasakan bermaksiat sesudah pulang kembali (ke kampung halamannya). Al-Hasan al-Bashori berkata tentang haji mabrur, bahwa dia (si haji) akan pulang (ke kampungnya) dalam situasi zuhud di dunia, dan berharap untuk keakhiratannya (zahidan fil-dunya wa ro-ghiban fi’l-a-khiroh).

 

Kiat meraih kemabruran

[frame][/frame]Mabrur suatu predikat tertinggi dalam pencapaian target menunaikan ibadah haji; tapi sayangnya tidak mudah untuk meraihnya, bahkan bila telah didapatpun, tidak otomatis akan melekat sepanjang hayat pada diri sang haji atau hajah. Imam al-Ghozali menceriterakan suatu kisah tentang mabrurnya haji yang hanya didapatkan oleh jamaah yang berjumlah sedikit bila dibandingkan dengan banyaknya jama’ah yang berwukuf di Arafah. Ali bin Muwaffaq menceriterakan tentang pengalamannya tatkala ia menunaikan ibadah haji suatu tahun:

 

Ketika malam hari Arafah ia tidur di Mina di Masjid al-Khaif, tiba-tiba ia bermimpi dalam tidurnya seakan-akan ada dua Malaikat turun dari langit. Keduanya berpakaian berwarna hijau, salah satu dari keduanya memanggil sahabatnya itu “Hai Abdallah”. Dijawab oleh yang lain: “Labbaik hai Abdallah” yang pertama berkata: “Tahukah engkau berapa jumlah jamaah yang berziarah di “bait Tahun kita” azza wajalla untuk berhaji tahun ini ?” Dijawab: “Tidak tahu”. Ia berkata: “Telah berhaji di “bait Tuhan kita” enam ratus ribu orang. Tahukah engkau berapa yang diterima (mabrur)?”. Dijawab: “Tidak”. Ia berkata : “Enam orang”. Sang sufi berkata : “Kemudian kami naik ke atas ke udara”, dan kedua Malaikat itu menghilang dari padaku; maka akupun terbangun dengan kaget dan bersedih sekali, memikirkan tentang diriku. Akupun berkata: “Kalau hanya enam orang yang mabrur hajinya, maka dimana aku di antara yang enam orang itu”. Setelah aku meninggalkan Arafah dan telah berada di al-Masy’aril Harom (Muzdalifah), aku berfikir tentang banyaknya manusia (jamaah haji) dan sedikitnya yang mabrur, sampai akupun tertidur pula. Tiba-tiba kedua Malaikat tadi turun dalam keadaan (asli) keduanya; Masing-masing saling memanggil dan mengulangi pembicaraan (di Arafah) juga. Kemudian ia bertanya “Tahukah engkau apa yang ditentukan Tuhan kita azza wa jalla pada malam ini?”. Dijawab: “Tidak tahu”. Ia berkata: “Bahwa Dia memberi setiap orang dari yang enam itu, seratus ribu jamaah”. Sang sufi terbangun dalam keadaan senang dan gembira (Ihya ulumuddin,vol.1. hal.242).

 

Jamaah haji tiap tahun bertambah, tapi yang mabrur sangat sedikit. Padahal semua mendambakannya. Lebih lanjut Imam al-Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin memberikan petunjuk bagi para jamaah haji dalam upaya meraih mabrur. Ada yang sifatnya upaya-upaya lahiriyah, ada juga langkah-langkah yang harus di lakukan secara ruhaniyah. Secara panjang lebar di jelaskan dalam Bab III Kitab Asroril hajj, terhimpun “fi’l-a-dabid-daqiqoh wal-a’-malil-bathinah”.

Dalam daqo-iqul adab di rincikan, yang antara lain sbb :

Pertama: Hendaknya biaya pergi haji halal, dan tangan tidak dibebani oleh niaga yang menyibukkan hati, dan memecahkan konsentrasi, yang hanya di peruntukkan bagi Allah Ta’ala semata. Hati tenang menuju Allah dan menghormati syiar-syiar-Nya, waspada terhadap sinyalemen Nabi saw, bahwa “Di akhir zaman, orang-orang pergi haji terbagi empat golongan, para pemimpinnya untuk berwisata, para orang kayanya untuk bisnis, para fuqoronya untuk minta-minta dan para ulamanya untuk sombong dan pamer”. (H.R.al-Khotib dari Anas).

Kedua: Jangan mengamanatkan harta kepada mereka yang non muslim, dalam bisnis atau lainnya, karena berarti membantu para “a’da-a llah”.

Ketiga: Usahakan membawa bekal yang cukup, baik dalam menggunakan uang, tidak kikir dan tidak berlebihan, sehingga dapat menjadi jamaah yang “thi bul kalam dan ith-‘a-mu-l-tho-am “.

Keempat: Menghindarkan diri dari ar-rofats, al-fusuq dan al-jidal.

Kelima: Hendaknya berpenampilan gentle dan tidak loyo serta melepaskan assesoris yang mengesankan keangkuhan dan kesombongan.

Keenam: Diusahakan untuk dapat menyembelih hewan qurban.

Ketujuh: Berjiwa besar dan mulia manakala mendapatkan kebaikan ataupun kesusahan.

 

Adapun dalam al-a’ma-li-l-bathinah dengan semangat keikhlasan, antara lain:

Pertama: Memahami benar arti ibadah haji, dengan pengertian bahwa seseorang tidak akan bisa sampai kepada Allah Ta’ala kecuali dengan menghindarkan diri dari godaan syahwat, memperketat diri dari al-ladzdzat, memperkecil dorongan kepada sesuatu yang sifatnya darurat, dan senantiasa beruzlah dengan Allah Ta’ala dalam segala gerak dan diam.

Kedua: Tumbuhnya “as-syauq” yakni rasa rindu yang terpancar dari kepemilikan pengertian dan pemahaman mendalam serta secara hakiki tahu bahwa “al-bait” yang jadi tujuan berhaji adalah seolah berada di hadapan Allah Tuhan Yang Maha Besar, maka yang datang kesana berarti menuju Dia dan berziarah kepada-Nya, yang mendapat janji-Nya, “anna zhoru ila waj hi llahi’l karim” di alam kekal.

Ketiga:Niat yang kokoh atau “al-azm”, dengan konsekwensi meninggalkan keluarga dan handai tolan, meninggalkan bumi tumpah darah, dan meninggalkan syahwat dan kelezatan menuju Allah Ta’ala.

Keempat: Melepaskan segala keterikatan yakni mengembalikan apapun yang bersifat perampasan dan penggampangan dan bertobat nasuha kepada Allah SWT dari berbagai perbuatan ma’siat yang telah terakumulatif karena akan menjadi ganjalan tatkala akan menghadap yang Maha Raja-Raja. Oleh sebab itu, lepaskan buhul hati penyebab menoleh ke belakangmu saat bermuwajahah face to face bersama Dia dan tanpa jasa konsultan apapun.

Kelima: Adapun bekal yang di bawa harus halal, dan apabila timbul rasa tamak pada diri ingin memperbanyak bawaan, karena perjalanan cukup jauh, menyita waktu cukup lama, maka ingatlah dan sadarlah bahwa “safarul akhiroh” (perjalanan ke akhirat) lebih panjang dan lebih lama. Bekalnya adalah taqwa; adapun lainnya yang diperkirakan sebagai bekal juga, akan terpisah saat mati dan mengkhianatinya, rusak di awal perjalanan dan tidak menemani kematiannya.

Keenam: Tatkala pandangan mata tertumbuk pada “al-bait” Ka’bah, maka hadirkan pada diri dan hati kebesaran baitullah ini, dan berusaha mempersonifikasi seakan engkau menyaksikan bait Allah dengan segala kebesarannya, dan bermohonlah semoga Allah mengaruniai melihat “wajah-Nya yang Mulia” sebagaimana telah memberimu karunia melihat bait-Nya, dan berterima kasih karena Allah telah menyampaikanmu sampai di maqom ini.

Ketujuh: Tatkala melaksanakan wukuf di Arafah, maka sadarilah engkau telah berada dalam komunitas yang penuh dengan berbagai warna kulit, bahasa, adat istiadat, namun semuanya adalah satu “Ummatan wahidatan”. Gambaran situasi , “Arshotul l-qiyamah” atau “kegoncangan hari qiyamat”, berkumpulnya umat dengan nabi-nya dan masing-masing umat mengikuti kemana langkah Nabi mereka dengan penuh harap mendapatkan syafa’at; walau perasaan gusar dan ragu menyelinap pada setiap diri apakah mendapat atau di tolak.

 

Ketika engkau ingat itu, maka paksakan hatimu untuk merintih dan memohon kepada Allah azza wa jalla agar di masukkan dalam kelompok orang-orang al-fa-izin, al-marhu-min. Maka, apabila telah bulat hati dalam merintih serta berharap kepada-Nya engkau angkat kedua tangan di hadapan-Nya, dan di panjangkan leher dan pundak dengan menatap langit, hanya satu tekad dan satu harapan untuk mendapat rahmat-Nya, maka Allah SWT tidak akan berpaling, menyia-nyiakan harapan, meremehkan upaya yang di pertunjukkan kepada-Nya.

 

Demikian Allah akan mempersiapkan rahmat-Nya dan meliputkannya untukmu. Allah SWT tidak akan menerima seseorang menjadi haji mabrur kecuali yang di cintai-Nya. Dan siapapun yang dicintai-Nya, maka pasti di lindungi dan di tunjukkan kepadanya tanda-tanda dan bukti kecintaan-Nya, dan akan di lindungi dari langkah-langkah Iblis musuh bebuyutan la’natullah atasnya.

 

Penutup

 

Kalimat ikhtitam untuk khutbah ini, mari kita renungkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah, 2:200):

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ

(Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikir lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia; dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka “.

 

Dikirim oleh : H.Fuad Thohari

Apakah Artikel Ini Membantu?

Rate Sekarang Guna Meningkatkan Kualitas Artikel

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 komentar untuk “Kiat Menuju Haji Mabrur dan Ciri – Ciri Haji Mabrur”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Right Menu Icon