Tata Cara Wudhu / Bertayamum & Sholat Dalam Pesawat Bagi Jamaah Haji Umroh

DaftarHajiUmroh - Biaya Umroh Paket Travel Jakarta » Tata Cara Wudhu / Bertayamum & Sholat Dalam Pesawat Bagi Jamaah Haji Umroh

Tata Cara Wudhu / Bertayamum & Sholat Dalam Pesawat Bagi Jamaah Haji Umroh

[heading] Wudhu atau Bertayamum di Pesawat?[/heading]

 

Ada 2 pendapat dimana kita memilih berwudhu atau bertayamum saat di pesawat:

  1. Bahwa selama masih ada air, belum boleh tayammum.
  2. Kalau di pesawat justru haram berwudhu’. Alasannya, karena airnya tidak akan cukup untuk digunakan oleh seluruh penumpang pesawat. Dan oleh karena itu kita malah jadi zhalim, lantaran memaksakan diri berwudhu’ dengan cara mengambil ‘jatah’ air milik penumpang lain.

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَين

Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki... (QS. Al-Maidah : 6)

 

Adapun kedudukan tayammum oleh para ulama tidak pernah bisa menggantikan wudhu’, kecuali dengan sebab-sebab yang sudah dipastikan. Di antara sebab itu adalah tidak adanya air yang mencukupi untuk berwudhu’. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT :

فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

Kemudian kamu tidak mendapat air maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik ; sapulah mukamu dan tanganmu.(QS. An-Nisa : 43)

 

 

Pilihan yang bisa diambil oleh jamaah:

  • Wudhu’ di toilet pesawat

 

Berapa banyak air yang dibutuhkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika berwudhu’. Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari disebutkan :

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Anas r.a dia berkata bahwa Rasulullah SAW berwudlu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air. (HR. Bukhari Muslim)

Tahukah Anda, satu mud berapa liter? satu mud itu hanya 0,688 ml. Ternyata jumlahnya tidak sampai satu liter, cuma 0,68 liter.

 

 

  • Bertayamum

Tata Cara Tayamum 2

 

 

[heading]Tata Cara Shalat Dalam Pesawat[/heading]

Perjalanan dari Tanah Air menuju Makkah atau Madinah membutuhkan waktu yang sangat lama sekitar 9 sampai 11 jam perjalanan. Sudah barang tentu kita akan melewati dua waktu sholat lima waktu.

 

Ketentuan sholat dalam perjalanan. Salat di lakukan dengan duduk.Adapun caranya hampir sama dengan shalat biasa.Berikut adalah rukunnya :

a.Takbiratul ihram

b. Membaca surat al fatihah

c. Rukuk

d. I’tidal

e. Sujud

f. Duduk antara dua sujud

g. Sujud lagi kemudian bangun untuk rakaat kedua

h. Duduk tasyahud awal

i. Duduk tasyahud akhir

j. salam

 

 

Ketentuan sholat di dalam perjalanan

Jika jarak tempuh perjalanan mencapai enam belas farsakh (kurang lebih 80 km), maka seseorang dibolehkan melakukan qashar dan jama’ dalam shalat.

  •  Qashar shalat artinya meringkas bilangan rakaat dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Berarti hanya berlaku untuk shalat yang jumlahnya empat, yaitu Zuhur, Asha dan Isya. Maka shalat Maghrib dan Shubuh tidak ada qashar padanya.
  • Sedangkan jama’ shalat artinya menggabungkan pelaksanaan dua shalat dalam satu waktu shalat. Berlaku hanya untuk shalat Zuhur dan Ashar, serta Maghrib dan Isya. Baik dilakukan pada waktu pertama (jama’ taqdim) atau pada waktu kedua (jama’ ta’khir). Shalat Ashar tidak dapat dijama’ dengan shalat Maghrib, atau shalat Isya’ tidak dapat dijama’ dengan Shubuh.
  • Di tengah perjalanan, disunnahkan melakukan shalat fardhu dengan cara qashar dan jama’, dengan satu kali azan dan dua kali iqamah. Misalnya jika singgah di tengah perjalanan waktu Zuhur. Hendaklah dia shalat Zuhur dua rakaat, lalu salam, setelah itu lakukan iqamah, kemudian shalat Ashar dua rakaat hingga salam.
  • Shalat berjama’ah tetap diperintahkan bagi orang laki selama di perjalanan, selagi dia mampu melakukannya.
  •  Jika seseorang masuk masjid di tengah perjalanan, lalu dia mendapatkan jama’ah shalat, janganlah dia membuat jama’ah baru, tetapi bergabunglah dengan jama’ah yang telah ada. maka hendaklah dia shalat ikut berjama’ah bersama imam.
  • Imam ditetapkan untuk diikuti. Jika imamnya ketika itu shalat dengan sempurna maka sebagai ma’mum dia ikut shalat dengan sempurna, dan jika imamnya shalat qashar, maka sebagai makmum dia shalat qashar.
  • Jika seseorang mendapatkan shalat jamaah sedang ditunaikan, tidak perlu dia bertanya-tanya shalat apa yang sedang dilakukan. Dia dapat langsung bergabung dengan jamaah tersebut sebagai makmum dan niat shalat sesuai urutannya. Misalnya dia hendak shalat jama’ Maghrib dan Isya. Maka ketika dia masuk masjid dan mendapatkan jama’ah shalat sedang dilakukan, dia dapat langsung bergabung dengan jama’ah tersebut dengan niat shalat Maghrib. Jika imam telah salam dan rakaat shalat Maghribnya masih kurang, tinggal dia teruskan sisanya.  Adapun jika ternyata imam shalat Isya dengan sempurna dan dia (yang shalat Maghrib) ikut sejak rakaat pertama, maka ketika imam bangun dari rakaat ketiga, dia tetap duduk untuk tasyahhud akhir, lalu jika selesai dia dapat langsung salam tanpa menunggu imam, atau menunggu imam menyempurnakan shalatnya dan dia salam setelah imam salam.
  • Kadang sering terjadi di tengah perjalanan, setelah selesai shalat Maghrib, jamaah berikutnya langsung iqamah dan memulai shalat Maghrib pula, maka dia boleh langsung bergabung dengan jamaah tersebut dengan niat shalat Isya’. Ketika itu ada dua cara yang dapat dilakukan; Dia dapat melakukan shalat Isya dengan sempurna, dengan pertimbangan imam shalat Maghrib dengan sempurna. Atau dia dapat melakukan qashar shalat dengan pertimbangan bahwa jamaah tersebut sedang melakukan Shafar. Jika pilihan kedua yang dia ambil, maka ketika imam (yang shalat Maghrib) tersebut bangun setelah rakaat ketiga, hendaknya dia tetap duduk untuk tasyahhud akhir dan menunggu imam menyelesaikan shalatnya, lalu dia salam setelah imam salam. Atau, dia langsung salam setelah tasyahhud akhir tanpa menunggu imam.
  • Jika seseorang menetap di suatu tempat selama empat hari kurang, maka dia tetap boleh melakukan qashar dan jama’. Namun lebih utama dia melakukan qashar saja tanpa jama’. Akan tetapi jika dia ikut bersama imam yang shalat dengan sempurna, maka dia harus ikut shalat dengan sempurna bersama imam. Walaupun –misalnya shalat Zuhur- dia ikut imam yang shalat sempurna pada rakaat ketiga, ketika imam salam, dia tidak boleh salam dengan pertim-bangan dia melakukan shalat qashar, akan tetapi dia harus menyempurnakan shalat dan menambah dua rakaat sisanya.
  • Adapun jika dia telah niat menetap lebih dari empat hari, maka dia tidak boleh melakukan shalat qashar dan jama’ dengan alasan Shafar.
  • Tidak ada shalat rawatib (qabliah dan ba’diah) jika kita melakukan shalat qashar atau jama’ dalam perjalanan. Kecuali shalat rawatib sebelum Fajar, dia tetap sunnah dilakukan meskipun dalam perjalanan sebagaimana contoh Rasulullah

Abdullah Haidir

 

By | 2017-03-15T22:38:36+00:00 April 19th, 2013|Manasik Umroh Haji|9 Comments

About the Author:

Farida
Farida suka desain dan membaca. Suka mempelajari hal-hal baru yang sekiranya menarik untuk dipelajari. Alhamdulillah beberapa kali Farida menjadi Tour Leader untuk keberangkatan umroh. Daftarhajiumroh.com dibangun sebagai edukasi bagi jamaah Indonesia yang akan berangkat haji dan umroh. Semoga bermanfaat

9 Comments

  1. Tony Juni 7, 2017 at 5:05 am - Reply

    Bermanfaat sekali….
    Semoga m Farida mendapat Hidayah-Nya
    Amin …

  2. ade syarif Maret 14, 2017 at 3:28 pm - Reply

    Alhamdulillah , terima kasih atas artikelnya tata cara wudhu atau bertayamum dalam pesawat yang bermanfaat

Leave A Comment